Manfaat Perawatan Paliatif untuk Hidup Berharga

Manfaat Perawatan Paliatif untuk Hidup Berharga

Share

Perawatan paliatif sebetulnya sudah semakin sering dibahas dalam berbagai forum dan kesempatan di media massa atau di layanan kesehatan, namun masih banyak pemahaman yang simpang siur atau terbatas karena tabu. Umumnya, pasien dan keluarganya memiliki pemahaman bahwa perawatan paliatif berarti pasrah, tidak melakukan apa-apa dan hanya menunggu kematian, apalagi bila dilakukan sebagai homecare paliatif. Ini yang perlu diluruskan. Di tulisan ini kita akan membahas tentang manfaat perawatan paliatif. 

“Perawatan paliatif yang baik memberikan manfaat besar bagi pasien, keluarga, dan tim medis, terutama dengan kesinambungan perawatan di rumah dan rumah sakit.” Dr. Eddy Wiria, PhD

Perawatan paliatif yang dipersiapkan dan dikoordinasikan dengan baik memberikan banyak manfaat bagi banyak pihak, terutama bagi pasien, keluarga, bahkan dokter dan perawat atau tim medis yang menangani pasien. Sayangnya, perawatan paliatif yang walaupun ada terbatas, juga seringkali hanya berfokus pada penanganan di rumah sakit, padahal sebetulnya kesinambungan perawatan dari rumah sakit dan di rumah sangat penting. Kenapa? Karena sebagian besar waktu pasien ada di rumah atau di lingkungannya sendiri.

Rumah sakit bukanlah tempat tinggal, dimana pasien berbulan-bulan atau bertahun-tahun menetap. Di rumah sakit bisa dilakukan evaluasi dan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup, misalnya transfusi darah, bedah ortopedi atau operasi patah tulang (misalnya operasi bahu, panggul dan lutut), atau juga kemoterapi dan radioterapi yang diperlukan untuk menahan perkembangan dan penyebaran kanker. Di rumah, banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat keseharian pasien lebih berkualitas, misalnya fisioterapi dan aktivitas hobi, mobilisasi dan olahraga ringan, penanganan nyeri, perawatan luka dan kebersihan tubuh (serta penampilan), dan lain sebagainya. Pemahaman ini juga berpengaruh misalnya pada pembiayaan, misalnya tanggungan asuransi. Kebanyakan manfaat asuransi (terutama di Indonesia) hanya memberikan benefit untuk perawatan paliatif di rumah sakit atau oleh hanya tim medis yang dikirim oleh rumah sakit (padahal di Jakarta dan sekitarnya ada homecare Kavacare yang bisa melakukan homecare paliatif secara multidisipliner di rumah bersama keluarga pasien).

Perawatan paliatif merupakan kegiatan multidisipliner yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup pasien dengan penyakit serius dan keluarganya dengan mengelola gejala kompleks, menggunakan keterampilan komunikasi tingkat lanjut untuk menetapkan tujuan perawatan, dan memberikan dukungan psikososial dan spiritual. Komponennya selain kualitas hidup, juga perawatan masa akhir, dan juga pemilihan layanan kesehatan yang sesuai atau esensial. Perawatan paliatif ini bisa berlangsung berbulan-bulan hingga tahunan. Khusus perawatan di masa akhir kehidupan yang adalah bagian dari perawatan paliatif yang prognosisnya kurang dari 6 bulan. Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Belanda, perawatan end of life dilakukan di hospis atau di nursing home. Perencanaannya memerlukan pengambilan keputusan bersama dari semua pihak yang terlibat dengan panduan dari tim medis (paliatif) dengan memperhatikan kondisi dan harapan dari pasien. 

Baca juga: Perawatan Paliatif: Kapan Dibutuhkan?

Berikut adalah tabel lingkup-lingkup perawatan paliatif dan rekomendasinya dari National Consensus Panel Guidelines (diadaptasi dari the National Consensus Project for Quality Palliative Care):

DomainKey Recommendations
Structure and processes of careInterdisciplinary team, comprehensive interdisciplinary assessment, education and training; relationship with hospice program
Physical aspects of carePain and other symptoms are managed with the use of best practices
Psychological and psychiatric aspects of carePsychological and psychiatric issues are assessed and managed; grief and bereavement program is available to patients and families
Social aspects of careInterdisciplinary social assessment with appropriate care plan; referral to appropriate services
Spiritual, religious, and existential aspects of careSpiritual concerns are assessed and addressed; linkages to community or spiritual or religious resources are provided as appropriate
Cultural aspects of careCulture-specific needs of patients and families are assessed and addressed; recruitment and hiring practices reflect the cultural diversity of the community
Care of the imminently dying patientSigns and symptoms of impending death are recognized and communicated; hospice referral is recommended when patient is eligible
Ethical and legal aspects of carePatient’s goals, preferences, and choices form basis for plan of care; the team is knowledgeable about relevant federal and state statutes and regulations

 

Idealnya perawatan paliatif dimulai dari awal diagnosis penyakit dan kondisinya. Tim paliatif, pasien dan keluarganya membuat program berdasarkan kombinasi berbagai domain penting: proses perawatan (koordinasi multidispliner yang baik misalnya antara rumah sakit dan homecare), aspek fisik (penanganan nyeri, luka, kondisi kulit), aspek psikologis dan psikiatri (kemarahan, depresi, kegelisahan), aspek sosial (hubungan dengan keluarga, perpisahan, beban mental, warisan, hutang), aspek spiritual dan religi (diskusi akhir hidup dan setelah kematian, tentang dosa, pendampingan spiritual dan religi), aspek budaya (ritual-ritual budaya, kebiasaan-kebiasaan, mitos), perencanaan saat sekarat atau sakaratul maut (tindakan yang masih diharapkan, diinginkan dan memungkinkan, advance care planning, penguburan, kremasi), dan aspek etis, legal serta keinginan (administrasi kematian, hukum waris, surat-surat dan dokumentasi), pilihan dan preferensi pasien serta kemampuan dari tim yang tersedia (cara berkomunikasi yang tepat). Walaupun layanan paliatif sederhana bisa dilakukan oleh dokter umum, dan tindakan yang lebih kompleks memerlukan spesialisasi khusus paliatif, kenyataannya banyak tenaga medis, dokter spesialis dan manajemen rumah sakit juga tidak mengerti apa yang bisa ditawarkan atau bahkan belum paham apa itu perawatan paliatif sama sekali. 

Di negara yang perawatan paliatifnya sudah maju, program paliatif diberikan kepada pasien dengan kanker stadium lanjut, penyakit neurologis, penyakit paru-paru kronis, jantung dan pasien lanjut usia dengan berbagai kondisi dan kelemahan. Di sana, rekomendasi konsensus mendukung rujukan pada saat diagnosis untuk pasien dengan kanker stadium lanjut, penyakit neurologis, atau kerusakan organ; mereka yang memiliki berbagai kondisi yang hidup berdampingan, kelemahan, atau gangguan kognitif tingkat lanjut; mereka yang memiliki gejala tinggi atau beban pengobatan iatrogenik (misalnya, mereka yang telah menerima transplantasi sumsum tulang untuk leukemia akut); dan mereka yang memiliki kebutuhan keluarga atau pengasuh yang berat tanpa memedulikan prognosisnya. 

 

Baca juga: 5 Manfaat Perawatan Paliatif di Rumah dan Perencanaannya

 

Bila tertarik mempelajari lebih lanjut terkait topik Perawatan Paliatif, bisa juga membaca:

  1. Kelley AS dan Morrison RS. Palliative Care for the Seriously Ill. New England Journal of Medicine. 2015;373:747-755.

Artikel Perawatan Paliatif lain yang juga menarik untuk dibaca:

  1. Gomes B et al. Effectiveness and cost-effectiveness of home palliative care services for adults with advanced illness and their caregivers. Cochrane Database Syst Rev 2013;6:CD007760-CD007760.
  2. Phelps AC et al. Religious coping and use of intensive life-prolonging care near death in patients with advanced cancer. JAMA 2009;301:1140-1147.
  3. Back AL et al. Teaching communication skills to medical oncology fellows. J Clin Oncol 2003;21:2433-2436.
  4. Butler M et al. Decision aids for advance care planning: an overview of the state of the science. Ann Intern Med 2014;161:408-418
Avatar
Reviewed by:
Ditinjau oleh:

Dr. Eddy Wiria, PhD

Co-Founder & CEO Kavacare